Jawapes.co.id (Surabaya) – Sebagai Kota Metropolitan, Pendidikan di Surabaya masih belum menyentuh semua anak. Terlebih sejak pengelola...
Jawapes.co.id (Surabaya) – Sebagai Kota Metropolitan, Pendidikan di Surabaya masih belum menyentuh semua anak. Terlebih sejak pengelolaan SMA/SMK diambil alih oleh Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya berkesan cuci tangan dan sudah tidak mau ikut campur.
Hal ini dialami oleh 2 saudara kembar, Winda Hamidah Ruhyati dan Widya Haniyah Ruhyati (17 tahun) dari salah satu keluarga tidak mampu yang tinggal di daerah Bulak Rukem Timur harus putus dari sekolahnya Jurusan Perbankan Syariah di SMK Muhammadiyah 1 Jl. Kapasan Surabaya karena alasan biaya.
“Karena tidak mampu menanggung biaya, ada upaya dari Sekolah agar kami tidak naik kelas dengan tidak diijinkan mengikuti ulangan sehingga sering kali saat ulangan semester kami disuruh nunggu diluar atau mengikuti ulangan diluar,” ungkap Winda saat dikonfirmasi Jawapes, senin (13/8/2018).
Masih Winda menyampaikan, Kami tidak sanggup memaksa orang tua untuk bekerja lebih keras lagi untuk membiayai sekolah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari aja masih kesulitan apalagi harus melunasi tunggakkan sekolah senilai kurang lebih 18 jutaan, dari mana dapat uang sebanyak itu. Dengan terpaksa akhirnya kami memutuskan tidak melanjutkan sekolah.
Sementara itu Anggota Komisi D DPRD Surabaya Reni Astuti, S.Si menanggapi bahwa dirinya telah menerima adanya laporan mengenai kedua siswi tersebut namun karena SMA/SMK kewenangan pengelolaannya di Pemprov Jatim seharusnya yang tepat ke Dewan Provinsi Jatim.
“Saya sudah melakukan kunjungan ke beberapa anak yang mengalami hal yang sama, solusinya saya arahkan untuk mengikuti kejar paket C. Coba minggu depan saya agendakan untuk kunjungan kerumahnya mungkin bisa memberikan solusi,” tutur Renny.
Sedangkan Karyanto, Kepala Cabang Dinas UPTD Surabaya Dinas Pendidikan Jawa Timur menjelaskan pihaknya telah melayangkan surat kepada Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Surabaya. “Kami akan berusaha memberikan solusi terbaik agar kedua siswi tersebut tetap bisa melanjutkan sekolahnya,” kata Karyanto. (Red)







